Selasa, 21 Februari 2017

aku bukan pecinta yang baik sayang

Diposting oleh Andii Soraya di 00.34
Reaksi: 
0 komentar
jika jatuh cinta adalah ibadah.  akulah ahli surga.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  aku berkalikali gagal dalam percintaan.  bukan cara mencintaiku yang salah,  takdir memang seringkali menyiksaku,  mengujiku,  membenturkan kepala,  menghancurkan imaji.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  tapi aku menyayangimu.  aku jatuh cinta berkali-kali,  semoga kau yang terakhir kali. bisakah kata semoga diganti menjadi harus hari ini?

aku bukan pecinta yang baik sayang,  nurani dan otakku tlah terkontaminasi dengan logika dan limit nutrisi.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  ragu seringkali memutus cahaya di tiap sudut hatiku,  menjadikan cinta adalah pertarungan gengsi.  tapi kau datang,  begitu saja,  mencintaiku tanpa menghakimi.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  akulah letak masalahnya.  perihal cinta,  aku sungguh cinta,  meski aku bingung menakarnya,  bahkan aku bingung menafsirkannya. tapi kau,  entah kenapa,  tiada lelah meyakini.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  aku pun tidak sedang baikbaik saja. kau selalu tau,  dan berupaya menjadikanku lebih ceria dan pipi berisi.


aku bukan pecinta yang baik sayang,  seringkali aku tersesat dalam pikiranku sendiri. kau datang menjadikan diriku merasa pantas dikasihi. disayangi.  dicintai.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  aku ingin bebas tidak terkekang tapi aku rindu disangkarkan kali ini

aku bukan pecinta yang baik sayang,  bisakah kau terima aku dengan segala pemikiranku,  aku bisa saja memandangmu dengan mata bercahaya tanpa dosa,  tapi pikiranku bisa saja sedang ingin membunuhmu ataupun menaikimu penuh nafsu. berhatihatilah kepadaku. tapi aku jatuh cinta,  dan kaulah tersangka utama. akulah yang harus berhatihati.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  aku berbahaya,  jadilah penawarnya.  aku berbahaya sayang,  jadilah pengendali liarku.  aku berbahaya sayang,  aku mencintaimu,  aku ingin kau tunduk tanpa pintaku,  atas ijin hatimu.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  aku banyak meminta pengertian. maka itu ku pinta,  kuras seluruh sabarmu,  takar kasih sayangmu,  jika tak cukup kuat,  berhentilah mencintaiku. tapi aku mengenal baik hatimu sayang,  kau pun pecinta paling keras kepala,  lakilaki yang tiada hentinya ingin berguna,  yang selalu berusaha menjadi satusatunya untukku dan Andhara.
aku mencintaimu sayang,  dengan segala gila dan warasku,  aku mencintaimu.
aku mencintaimu
meski ku lelah secara pemikiran,  dipundakku terlalu banyak beban dan kau selalu berusaha menggendongku, agar aku ringan,  agar kepala dan hatiku setidaknya sedikit ada ruang untuk tenang,  dan memikirkanmu.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  aku lalai menjagamu,  dan teramat sering mengutuk diriku.  aku paham,  semakin terpuruk aku,  semakin luka dihatimu.

aku bukan pecinta yang baik sayang,  tapi ijinkan aku mencintaimu,  dengan caraku yang mungkin takkan habis merepotkan,  dan membuat pusing kepalamu dengan tendensi naik turunku,  dengan manja yang hanya satu dua dengan anakku.  maafkan aku,  kau harus mencintai perempuan keras kepala ditambah dengan anak perempuan yang lebih keras kepala.  kau pun harus lebih keras kepala sayang,  atau merobohkan semuanya dengan kesabaran dan kasih sayangmu yang ku tau bukan sebatas peluk hangatmu kepadaku,  atau kecup didagu,  kau lebih dari itu.  kau lebih dari apapun,  dan aku percaya kau lebih dari siapapun yang pernah ku cintai, ku dampingi.

aku mencintaimu.
aku mencintaimu.
aku mencintaimu.

ijinkan aku mencintaimu.
meski seringkali ketakutan lebih menguasaiku dan memilih mundur dan memunggungimu.
aku hanya takut sayang,  tak berarti cintaku sebatas ucap dan alibi untuk mengambil ibamu.

mencintaimu perkara mudah.
hal tersulit adalah menjadikanmu apa adanya dirimu dan hidup bersamaku,  rencanaku adalah mengekangmu untuk bebas dalam mencintaiku,  dan menjadikan dada dan seluruh relung hatiku tempatmu membuang sampahsampah semu dan mimpimimpi tanpa kelu,  menjadikanmu satusatunya pemilik seluruh ruang rinduku,  tanpa belenggu,  atas pintamu,  menjadi begitu liar dan buas hanya dengan memikirkanku.  sungguh,  aku ingin mengekangmu,  atas pintamu. bukan karenaku. sungguh aku ingin mengekangmu,  kekang yang membebaskanmu,  kekang yang semakin erat kau genggam rantainya semakin pula kau jatuh cinta terhadap kedalamannya,  kekang yang membuatmu melenggang tanpa beban,  kekang yang membelenggu perasaanmu tapi  menerbangkan tinggi cinta dan citacitamu.

pantaskah aku untuk itu?

--------------------------------------------
jika jatuh cinta adalah ibadah,  akulah ahli surga.


Andi Soraya
2017

Rabu, 08 Februari 2017

Ay..

Diposting oleh Andii Soraya di 08.08
Reaksi: 
0 komentar
Ini hanya sebuah cerita fiktif yang diilhami kisah sendiri.
Selamat menikmati.




Kala itu aku dan dia sedang duduk di beranda, menatap padatnya jalanan kota.
Tiba-tiba ia berdiri, lalu sujud di hadapanku, menggenggam tanganku.
“Kita akan menikah, Ay!”, ucapnya girang.
Aku terperanjat,  “Hah? Menikah? Kenapa?”
“Karena kau akan hamil”, dengan santainya ia kembali duduk, menyalakan sebatang rokok, menghirupnya pelan, lalu tersenyum dalam diam.
“Hanya karena hamil?” Tanyaku penuh ragu. Aku tidak pernah mau menikah, walau dengan alasan cinta. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Demi wajah bahagianya, aku hanya diam. Berpikir keras, kenapa pula harus menikah.
“Kita akan menikah”, katanya lagi.


Dan memang benar, satu bulan setelah itu aku memang hamil dan akhirnya kami menikah beberapa bulan setelahnya. Kenapa? Karena aku mengundurnya. Aku tidak siap.
Ternyata hamil dalam ikatan pernikahan tidak juga membuatku bahagia. Aku terpuruk, sedih, hampir gila. Mungkin karena dari awal aku tidak ikhlas atas pernikahan ini. Atau mungkin karena sejak sebelum kehamilanku dia memang tlah berubah menjadi bajingan tidak berhati. Menghardikku, menyiksaku, dengan sengaja menyakitiku dengan cerita, entah benar atau tidak, bahwa ia banyak menghabiskan waktunya dengan meniduri perempuan.
Aku marah, bukan karena cemburu.
Tapi aku malu dihina, diremehkannya.
Aku merasa tidak istimewa dimatanya.
Jelas aku marah, tapi itu bukan karena aku cinta.


“Jangan marah, bukan salahku jika lelakimu ini banyak yang mau”., ucapnya dengan senyum angkuh
“Bukan banyak yang mau, kau saja yang memang lelaki murahan” hardikku kasar padanya.
Dia tertawa, memelukku.
Aku benci dipeluk, aku benci.
Aku benci segala hal tentangnya, tapi entah kenapa aku hanya diam memendam amarahku.
Aku tumbuh besar dengan Ibu. Ibu dulu takut melihatku.
“Ada keji disudut matamu Nak, menggantung, seperti menuntut balasan. Entah apa, mungkin kasih sayang, atau dendam. Persis mengingatkanku pada seseorang, yang tidak akan pernah ku kenang sebagai nama”
Aku tidak bertanya banyak, hanya bisa bilang “Biasanya itu cinta”.
...............................................................................................................................................................





Aku Ay. 

Berasal dari keluarga biasa saja.
Dengan ibu konservatif, dengan ayah yang terlalu keren. Ibu tidak pernah suka dengan seniman, katanya “Seniman itu kere, Nak, mau kasih makan apa ke kamu?”
“HAHAHAHAHA.. oke seniman itu kere. Lalu berikan satu alasan jelas kenapa ibu mau menikahi ayah yang mencintai vespa tua, yang hafal seluruh lagu slowrock, yang menyicil membeli vw combi, yang merubah surau tidak terpakai disudut desa menjadi rumah layak tinggal, yang pintar melukis, yang memajang patung patung antik di seisi rumah kita?”
“Ibu terjebak keadaan Nak, pada akhirnya, waktu membuat Ibu mencintainya”
“Aku takut Bu, waktu pula yang memisahkan kalian”
“Ibu tidak pernah takut pada perubahan Nak, tugas kita perempuan, hanya mengabdi. Ada hal yang lebih penting dari cinta, yaitu pemaafan diri sendiri, juga menerima dengan ikhlas segala konsekuensi cinta”
“Aku sepertinya tidak bisa seperti Ibu”
“Hatimu hanya tidak bisa tenang, selalu menuntut balas. Yang ibu tau caramu menanggapi segala hal hanya dua. Menyerang, atau berdiam diri. Itu kedua caramu kan Nak, tibatiba menyeruduk memaki menghardik tanpa belas kasih, atau diam menjauh membisu membuat Ibu bingung. Lelakimu nanti haruslah penyabar, jika ia benar mencintaimu dia akan mengerti, sifatmu yang kasar, destruktif, semata-mata karena kau selalu menuntut cinta yang tak berbalas dari kami, kami alpa dimasa-masa kecil, remaja hingga dewasamu, kami lalai menjagamu tetap utuh secara perasaan dan jiwa. Maafkan kami. Carilah lakilaki yang memahami bahasa tubuhmu Nak, bukan lelah dengan semua cacimu, tapi membalasnya dengan kebaikan dan kasih sayang”
Aku diam, tertawa getir dalam hati.
Mungkin aku tidak akan pernah menemukannya bu, ucapku dalam hati.
..........................................................................................................................................................








Aku tlah berkelana mencari cinta, aku lelah, pengalaman mengajarkanku untuk tidak lengah.Mengapa begitu susah rasanya menemukan seseorang yang ikhlas hidup dengan segala kemaklumannya pada sifat gamang, marah, dan ketidakstabilanku? Hidupku tidak pernah mudah, aku hanya ingin punya tempat tinggal dan tempat pulang, ke pangkuan seseorang, yang pada akhirnya akan selalu mencintai kurangku, dan akupun mencintai keseluruhan dirinya.…………………………………….








Xela lahir, dia menamainya begitu. Entah apa artinya. Dia bilang artinya kaki gunung. Ia pendaki, mungkin ia sengaja menamai anaknya dengan hal yang begitu ia sukai. Aku lelah bertengkar, dan ia juga tidak pernah menanyaiku tentang nama yang ingin ku beri pada anakku. Aku ingin sekali memberinya nama Anargya, bahasa Sansekerta, artinya tidak ternilai harganya. Tapi aku benar-benar lelah berdebat. Apapun yang aku katakan tidak akan pernah menjadi pertimbangan untuknya.
Dia tidak pernah tau bahwa aku telah lama berhenti mencintainya, jauh sebelum dia katakan ingin menikah. Jauh.



Aku bahkan lelah meladeninya diranjang, gairahku hilang. Cintaku menguap. Menghilang di udara, melayang bersama seluruh makian dan hinaannya padaku.
“Mana kamu yang dulu, yang liar diatasku?” Dia pernah bertaanya seperti ini.
Aku hanya diam, atau hanya bilang “Aku sedikit lelah”.
Tapi aku tau benar bahwa ia tau aku tlah lama muak dengannya, aku tau benar ia tau bahwa aku jijik disentuhnya. Tapi ia memang bajingan, selagi ragaku masih disampingnya, ia akan terus menyetubuhiku, entah aku suka atau tidak. Entah aku ikhlas atau tidak. Ia tidak perduli. Ia kehilangan perlawananku, semangatku, tapi tidak pernah kehilangan tubuhku.




Aku benar-benar lelah bersamanya. Aku ingin pergi jauh. Dulu, ketika masih hanya berdua, aku tidak pernah sanggup meninggalkannya. Aku mengasianinya. Aku mengasihinya. Tapi semenjak Xela lahir, aku tumbuh lebih kuat, lebih tegar, lebih berani. Aku tlah berjanji padanya, sejak ia masih janin, bahwa tidak ada yang bisa menyakiti kita. Tapi sebelum aku benar-benar pergi, ia ternyata sudah pamit duluan. Meninggalkanku dan Xela sendirian. Tapi kami memang tlah sendirian dari awal. Aku pun tlah lama menyendiri dengan segala perihku.

................................................................................................................................................................






“Aku pergi. Aku yakin kau akan jadi Ibu yang baik untuknya. Ibu yang manis. Yang pernah ku cintai sejak awal sampai sekarang. Maaf atas segala hal, yang mungkin kau benci dari dulu. Maaf. Luka tlah mengakar di pundak, senyum, dibelakang telingamu. Semuanya mengendap terlalu lama, menjadi gumpalan marah yang kau simpan dalam kesendirianmu, dalam senyummu, dalam kepasrahanmu. Aku tau, ada belati tersimpan dihatimu, siap menikamku kapan saja, walau hanya dengan diammu. Aku tau, ada belati tersimpan dihatimu, siap membalas dendam dengan amukan paling amuk yang tak pernah kau keluarkan untuk siapapun. Ketahuilah, simpan baik-baik belati itu sayang, jaga, rawat, jangan pernah keluarkan dari sarungnya. Aku tlah cukup berdarah dengan semua sifat dinginmu. Aku tlah cukup tertatih mengejar cinta lama yg telah begitu saja ku lewatkan. Aku telah cukup terseok dengan segala upayaku membuatmu bahagia yang jelas jelas tidak ada lagi bisa ku lakukan. Kau mau memafkaanku?” ucapnya dengan wajah tertunduk.

“Lihat aku, tatap mataku. Akupun minta maaf, tidak bisa jadi istri yang membanggakan. Aku minta maaf atas segala muakku atas kehidupan bersamamu. Kau tau caranya agar aku bisa memaafkanmu? Tolong, segeralah mati. Kau mati sama dengan seluruh maafku juga tersedia, terbuka lebar. Matilah segera”
“Iya, bersabarlah. Tidak lama lagi. ”…


Benar, aku menunggunya mati. Tapi tidak ku lihat jejak-jejaknya. Kata orang, jika kita melihat seseorang tidak mempunyai kepala, yakinlah bahwa 40 hari setelah itu dia akan meninggal. Aku masih saja melihat kepalamu ketika berpapasan denganmu.
Aku bergumam, “Kenapa dia masih hidup?”
Dia mencoba segala hal untuk kembali seperti semula, dimana aku mencintainya, menggilainya, mengaguminya, mendambanya. Aku telah lupa bagaimana cara mencintainya, telah lama ku kubur perasaanku, ku buang jauh dari pikiran dan hatiku.
Dia memohon, “Kembalilah”
Dia lupa telah dia renggut segala kasih sayangku, habis tak tersisa.
...........................................................................................................................................................









Aku duduk diberanda, kali ini dengan Xela dipangkuanku.
Tidak ada sakit hati, tidak ada amarah.
Aku mengingat Ibu, mengingat tiap kalimatnya.
“Ahh.. Aku belum menemukan laki-laki seperti Bu, tapi aku cukup bahagia hanya dengan rengekan dan tawa putri kecilku. Atau.. mungkin saja aku yang belum ditemukan olehnya .” ucapku sambil mengecup kening Xela.
……………………………………………………………………………………………………..










Di ketinggian 3142 mdpl, seseorang menatap hening matahari terbit, duduk menghirup sebatang rokok, pikiran berkecamuk dalam kepalanya, merindukan dua wanitanya.
“Tidak ada yang salah Nak, cintaku tetap mengalir dalam darahmu, maaf atas dekap yang alpa ku lakukan. Cintaku hadir pada senyum Ibumu”, ujarnya sambil tersenyum. Setetes air mata jatuh turun ke pipinya. Ia tidak pernah menangis. Haru melesak menghantam dadanya. Ia baru tau sepi bisa sesakit ini.
“Istri dan anakku, maaf aku harus pergi meninggalkan kalian.”



AndiSoraya
2016



Senin, 19 Desember 2016

ku pikir aku mencintaimu

Diposting oleh Andii Soraya di 02.11
Reaksi: 
0 komentar
ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
tapi takutku lebih besar

ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
tapi air mataku lebih lancar

ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
tapi engkau tak tergapai

ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
tapi gelisah terus memburuku dengan kasar

ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
keberanianku masih tersembunyi dipaling dasar

ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
tapi pengabaianmu menyakiti dadaku

ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
tapi sifat acuhmu membuatku sadar
aku jangan terlalu mengejarmu

ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
tapi ku balas kau dengan rentetan kalimat keji yang membuat tanganku gemetar menuliskannya.
aku menangis lagi-lagi,
memilih menghindar daripada diabaikan ribuan kali.
benar aku mencintaimu, tapi rasa takut melindungiku dari acuhmu sekali lagi.

ku pikir aku mencintaimu
ternyata benar
aku sangat mencintaimu


--------------------------------------


sekarang aku merindukanmu
sungguh-sungguh rindu sampai menyesakkan dadaku
sungguh-sungguh rindu sampai kelu bibirku
sungguh-sungguh rindu sampai gemetar ingin memelukmu
sungguh-sunguh rindu sampai ingin berlari darimu
sungguh-sungguh rindu sampai merasa tak pantas disisimu


--------------------------------------

cinta ini menguap sebelum sempat memetik manisnya
cinta ini terendap sebelum temukan ladang rindunya
cinta ini tersendat sebelum temukan sumber candunya


-------------------------------------

r
i
n
d
u


dan segalanya berakhir tepat ketika ku minta kau berhenti berharap mengenai kita, mengenai takdir. dan lagilagi berakhir
dengan asin di pipi
dengan sesak di ulu hati
dengan kau di kepala
dengan cinta ku yang menggebu gebu di dada.






BERAKHIR.

Senin, 28 November 2016

Padamu pantai..

Diposting oleh Andii Soraya di 19.27
Reaksi: 
0 komentar
Padamu pantai, aku rindu bahkan candu.
Meski laut juga memburu rasa takutku.
Tapi aku tetap datang tanpa ragu.
Meski sesak seringkali menerkamku.
Rinduku menggebu-gebu, memintaku menemuimu.

Bukan, kamu bukan pelarianku atas segala omong kosong dan getir perjalanan hidupku. Bukan tempatku mengadu kenangan dan mengingat yang lalulalu. Bukan satu dua kali para pria menyusuri pantai bersamaku, bukan untuk mengenang mereka.

Ini tentang kita. Padamu ku jatuh cinta.
Rasarasanya hanya padamu tubuhku kembali suci dan bersih, mencuci puting payudaraku dari para lelaki pecinta seni. Yang gemar memilin dan meremas ciptaan Ilahi. Rasarasanya hanya padamu aku kembali jernih, secara pikiran dan nurani. Setelah semua tiran rasanya tiada lelah meniduri.
Rasarasanya hanya padamu, liang senggamaku rasanya tidak pernah dimasuki berkali-kali, dengan mereka yang merasa jantan menyebut diri sebagai laki-laki.
Rasarasanya hanya padamu aku akan kembali perawan, serasa Maria yang suci. Setelah segala kenyataan berkali-kali memerawaniku, memecahkan selaput daraku, bermain-main dengan air mata dan darahku. Aku harus kembali kepadamu.
Hanya padamu aku bersemedi, melepaskan segala hal pada diri. Aku pantang kembali padamu sebelum diri ini kembali di nodai.
Aku memang harus jatuh. Berlubang. Berkubang. Tumbang.
Aku kembali padamu lain kali.
Entah sendiri atau dengan seseorang menemani. Hanya padamu aku bercerita yang bahkan pada tuhan pun malas ku ceritakan.

Rasarasanya aku percaya, bahwa padamu pantai. Seluruh kitab mengikatku. Merantaiku. Merasukku. Menggoyahkanku. Menggilakanku. Sekaligus mensucikan tiap inci tubuhku.

A.S
29 okt 2016
Disudut rindu
23.10-23.20
Kotagede, Yogyakarta

Sabtu, 29 Oktober 2016

Kepada Seorang Buruh Seni Pukul Dua Dini Hari

Diposting oleh Andii Soraya di 04.00
Reaksi: 
2 komentar


Semuanya tlah terungkap dengan jelas, Kekasih.
Bagaimana aku memang kali ini gagal mempertahankan pendirian, atau memang egoku yang tlah ku kalahkan.
Aku tlah jatuh, kepadamu.
 
Barangkali nanti, waktu akan meniti kembali, sebagaimana ia memulai, bertindak dengan gemulai.
Hampir aku lupa, bahwa masa lalu kita begitu menyakitkan. Aku hanya takut, aku ini sekedar persinggahan tempat kau memulihkan diri.
Tak mengapa, selagi itu kau.
Jangan biarkan kedukaan merenggutmu dariku, Kekasih.
Padahal sepi dan rindu masih dalam lingkar yang sama, dalam ruang hampa masa lalu.
Terekam dengan jelas, bagaimana matamu bahkan seperti sebuah jendela, membuatku melihat begitu banyak pemandangan. Aku ngeri juga sedih. Apa dayaku...

Kita akrab dengan kehilangan, perpisahan
bahkan kita berteman dengan tangis dan kepedihan.
Bukannya aku pernah bilang
kita lahir pada luka yang sama, kuat atas pedih yang tak terkira..
Aku selalu ingat bagaimana kau memandangi tubuhku dengan mata tertutup, lalu kau menyisirnya dengan bibirmu.
Katamu ingin mengingat semuanya, lekuk tubuhku, dan segalanya.

Diranjang tempatku mengadu, kau benar benar menyesap tubuhku, mampu menangkap kegetiran, memelukku hanya penuh kasih sayang, Tanpa bertanya, tanya jeda. Kau biarkan aku menangis, hingga tertidur lelap dalam lingkar lenganmu.
Aku terbangun di pagi menjelang siang, Tidak terik, bahkan mendung menjulang.
Mataku bengkak, tapi kau, tidak ada alasan untuk tidak memujiku.
Itu kamu.

Gerimis kala itu, seperti matamu
yang selama ini hanya ada dalam bayangku, terawangku.
Malam terakhir yang menyiksaku.
Malam itu ku pikir, kaulah dahagaku.
Malam itu ku pikir, aku turut pula merasakan ada yang kosong di dadamu, dadaku.
Seperti ladang rindu, terbakar..
lalu akan ku tabur lagi benih rindu.
Entah dibulan mendatang, akankah aku berhasil menuai rindu, atau aku gagal menjagamu tetap tumbuh.


02.00-02.10
Maret 2016

andi soraya quotes

tiap hari aku merindu dan semakin mencintaimu Ratu
PT. Scream Satanica.Org. Diberdayakan oleh Blogger.
 

me dá teu calor Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review